Infoindo.com
Nasional » Politik

*Dari Dialog 4 Pilar MPR RI
Sumpah Pemuda, Pencetus Lahirnya Bangsa Indonesia
Selasa, 30 Oktober 2012 | 19:02:01 WITA | 803 HITS

JAKARTA,FMC - Seperti biasanya setiap Senin siang dilakukan dialog 4 pilar negara di Ruang Perpustakaan MPR RI Gedung Nusantara IV. Dimana hadir dalam dialog tersebut, Anggota MPR dari Fraksi PKS, Indra dan Azis Syamsuddin dari Fraksi Golkar MPR serta sejarawan JJ Rizal.

Dalam dialog tersebut JJ Rizal berpendapat bahasa menjadi satu pilar penting yang terlupakan dalam program sosialisasi Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara yang dilakukan Majelis Permusyawaratan Rakyat  (MPR). Empat Pilar itu adalah Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Bhinneka Tunggal Ika.

“Seharusnya bahasa menjadi pilar yang penting. Rasanya Empat Pilar itu seperti Empat Sehat, tapi belum sempurna. Bahasa menjadi pilar yang kelima. Sehingga program sosialisasi itu menjadi sehat dan sempurna,” kata Rizal.

Menurut Rizal, ada perbedaan antara teks Sumpah Pemuda tahun 1928 dengan teks Sumpah Pemuda saat ini. Teks asli Sumpah Pemuda 1928 hasil kongres Pemuda adalah Pertama, Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia, Kedua, kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia, Ketiga, kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Menurut Rizal, terdapat perbedaan pada teks poin ketiga. Naskah asli tertulis “menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”, sedangkan naskah berikutnya “berbahasa satu, bahasa Indonesia”. Mengapa bisa berbeda. Dikatakannya untuk menyatukan bahasa menjadi masalah. Persoalan satu tanah air tak jadi masalah, begitu juga satu bangsa tak jadi masalah. Hanya mempersatukan bahasa menjadi masalah.

“Sebagai jalan tengah, maka kalimat yang disepakati pada waktu Sumpah Pemuda adalah menjunjung bahasa persatuan. Menghormati bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, tanpa meninggalkan bahasa ibu mereka,” jelas Rizal.

Dia menambahkan Soekarno telah mengubah teks Sumpah Pemuda itu pada tahun 1950-an. Soekarno mengubah teks Sumpah Pemuda untuk kepentingan politiknya.  Saat itu Indonesia yang masih muda menghadapi separatis di mana-mana. Maka, Soekarno melihat Sumpah Pemuda sebagai sebuah kekuatan yang digunakan untuk mengikat.

“Dia berusaha menguatkan identitas persatuan. Maka kalimat menjunjung diganti menjadi satu bahasa Indonesia. Kalimat itu yang digunakan sampai sekarang,” kata Rizal.

Berkaitan dengan sosialisasi Empat Pilar, Rizal menegaskan bahwa unsur penting dalam membentuk nasionalisme adalah bahasa. Bahasa menjadi unsur terpenting dalam wawasan kebangsaan yang saat ini sedang tekor. “Bicara tentang pilar, tidak menyertakan bahasa seperti empat sehat tapi belum sempurna. Bahasa jangan ditinggalkan,” ucapnya.

Sementara itu Indra, anggota Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dalam era reformasi sekarang ini “Sumpah Pemuda” bisa dijadikan refleksi dan cermin kondisi kepemudaan sekarang. Makna dan ruh semangat Sumpah Pemuda masih relevan.  Namun, sayangnya, peran pemuda sebagai agen perubahan dan kontrol sosial pada masa reformasi ini masih dipertanyakan. Sebab, banyak kasus yang menimpa pemuda seperti tawuran dan perpecahan di tubuh organisasi kepemudaan. “Ini menjadi salah satu PR para pemuda,” katanya.

Seharusnya, lanjut Indra, pasca reformasi ini pemuda bisa tampil dan kesempatan sangat terbuka. “Tapi yang terjadi justru di antara mereka yang masuk dalam ‘pesantren’ KPK adalah para pemuda,” ujarnya. Meski demikian Indra masih berharap pemuda bisa tampil pada 2014 sebagai calon presiden. Ia percaya semangat dan potensi pemuda masih tetap ada. Pemuda, katanya, perlu didukung dan dibuka ruang terbuka bagi pemuda untuk muncul.

Anggota DPR dari Fraksi Partai Golkar, Azis Syamsuddin, menilai peran pemuda pada tahun 1928 dengan pemuda tahun 2012 ini sangat berbeda. Pada waktu lalu, pemuda melawan musuh yaitu penjajah Belanda dengan perjuangan senjata dan fisik. “Sekarang, musuh kita adalah anasir-anasir seperti narkoba,” ujarnya.

Mantan Ketua KNPI itu juga menyebutkan musuh para pemuda adalah melawan tindak pidana korupsi. Selain itu, pemuda harus mampu untuk mensejahterakan banga dan rakyat serta menjadikan Indonesia sebagai sebuah bangsa yang besar.

Sependapat dengan Indra, Azis Syamsuddin juga berharap pemuda bisa tampil. Untuk bisa tampil, peran media massa dan pers sangat penting karena bisa mempengaruhi publikasi dan performance seseorang. Karena itu, Azis mengajak kalangan pers untuk ikut berperan mengorbitkan pemuda yang memiliki performance dan dedikasi untuk memimpin Indonesia di masa depan.(idr)


 
Wisata
Travelling | Senin, 24 Februari 2014
Bus Wisata Pemprof DKI Resmi Beroprasi
Bus Wisata Pemprof DKI Resmi Beroprasi JAKARTA - Setelah diuji coba sepekan, bus wisata bertingkat mulai beroperasi, Senin (24/2/2014), di ...
Sportif
All Sport | Jumat, 23 Mei 2014
Garuda Jaya Bungkam Yaman dengan Tiga Gol Cantik
Garuda Jaya Bungkam Yaman dengan Tiga Gol Cantik SLEMAN - Tim nasional Indonesia U-19 tampil gemilang saat menang 3-0 atas Yaman U-19 pada laga ...